Rabu, 10 Maret 2010

ternyata "MIE INSTAN LAHIR DI EMPER RUMAH"...









kalian semua pasti sudah ngga asing lagi sama mie instan. Selain rasanya yang berbagai macam, enak, harganya terjangkau. Tapi apa kalian tau dari mana mie instan itu tercipta???
Kalian patut berterima kasih kepada Momofuku Ando, orang jepang kelahiran Taiwan, tahun 1911. Berkat kerja keras dan jerih payahnya kita sekarang bisa menikmati kelezatan mie instan. Makanan cepat saji yang penggemarnya ga ke itung lagi deh (otak juga termasuk...haa). Mie instan masuk ke Indonesia pada pertengahan tahun 1960-an.
Di tinggal orang tuanya, Ando berumur tiga tahun harus membantu neneknya mengurus rumah. Balita ingusan itu pun mesti menjaga toko. Belum lagi harus mencuci pakaian dan memasak. Hasilnya positif, ia jadi pintar memasak namun sebaliknya sekolahnya jadi terlantar. Menjadi seorang pedagang adalah angan-angannya. harta peninggalan orang tuanya pun di gunakan untuk berdagang pakaian rajutan di Taiwan dan Osaka, Jepang. Usahanya terbilang maju. Ia pun bisa kembali ke bangku sekolah menyelesaikan pendidikannya yang sempat terbengkalai.
Namun kemudian ia di tuduh korupsi dalam perdagangan senjata dan onderdil pesawat, ia lantas di jebloskan ke bui. Dua tahun lamanya ia hidup di hotel prodeo, ia pun di bebaskan pada 1956, satu-satunya harta yang tertinggal adalah rumah. Masa itu Amerika sedang gencar-gencarnya menyumbangkan gandum ke Jepang yang sedang paceklik pangan. Harga terigu menjadi murah, pemerintah Jepang pun menganjurkan rakyatnya mengkonsumsi roti dan terigu sebagai pengganti nasi. Melihat banyak orang melahap mie didekat Toserba Hankyu di Osaka, pikiran Ando tergugah. Kenapa tidak membuat mie dari terigu? Bukankah orang Jepang sangant menyukai mie? Apalagi mie rasanya enak, murah, tahan lama, dan tidak sulit mengolahnya.

Ide liar itu terus bergulir di otaknya. Cuma ia tidak mau membuat mie biasa yang sudah banyak beredar di pasaran. Ia ingin membuat mie dengan bentuk lain yang enak, lebih cepat dan mudah di olah, serta gampang di dapat di mana-mana. Ando mulai mewujudkan impiannya dengan membeli mesin pembuat mie dan bereksperimen membuat mie instan di emper belakang rumahnya. Mula-mula mie di goreng agar lebih awet, gurih dan cepat di olah. Lalu menimbang-nimbang rasa yan pas untuk kuah itu. Di pilihnya kuah ayam karena rasanya yang netral. Ando membawa contoh mie instannya ke sebuah toko serba ada. ternyata semuanya ludes hari itu juga. Waktu itu tahun 1958.
Emper rumahnya tak kuasa menampung pesanan. Ia memindahkan usahanya ke sebuah gudang kosong di Osaka. Di sana Ando membuat mie instan di bantu keluarganya. Sejak itu perusahaan-perusahaan besar berebut ingin menjadi penyalur mie instannya. Desmber 1958 Ando menamai perusahaannya Nissin Foods. Beberapa bulan kemudian ia pindah kesebuah pabrik seluas 20.000m2. Tahun 1960 ia membuka pabrik kedua, dan tahun berikutnya lahir pabrik baru lagi.

Meski mie instan laris manis, ia tak bosan-bosan bereksperimen untuk terus memperbaiki mutu. Bahkan ada keinginan memperkenalkan dan menjualnya ke luar negeri. Untuk menjajaki kemungkinan itu, ia pergi berkeliling Eropa dan Amerika pada tahun 1966. Disana ia melihat orang makan mie dengan garpu, tanpa kuah dan memakai piring. Menyeruput mie di anggap tidak sopan.
Ia juga mengamati ada kaldu yang bisa di larutkan dengan air panas, tanpa harus di masak. Ada "gelas" kertas sekali pakai dan kertas alumunium sebagai wadah kedap udara. Ando pun mendapatkan ilham membuat mie instan dalam wadah berbahan styrofoam, yang lantas ditutup rapat denganlembaran alumunium. Mie gelas itu tidak perlu di masak, cukup di seduh. Supaya tidak hancur terkocok-kocok, mie di buat lebih tebal. Disediakan juga garpu untuk memakannya.

Di puncak keberhasilannya, Ando yang pada tahun 1988 genap berumur 77 tahun, membuka Foodeum di Shinjuku, Tokyo. Gedung di sebut pula "Istana Mie" karena mempunyai beberapa restoran mie, tempat disko, dan musium mie.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar