Kamis, 27 Mei 2010

Mendaki Everest dengan Hanya 1 Paru-paru

img
Sean Swarner (Foto: EverestNews)
Georgetown, AS, Dua kali lolos dari kanker ganas membuat seorang pria di AS semakin yakin bahwa tak ada hal yang tak mungkin. Dengan hanya 1 paru-paru yang masih berfungsi ia berhasil mendaki Puncak Everest, titik paling tinggi di dunia.

Dikutip dari EverestNews, Kamis (27/5/2010), Sean Swarner yang lahir di Ohio, 2 September 1974 didiagnosis mengidap Hodgin Disease, sejenis kanker yang menyerang limfa, saat usianya baru 14 tahun. Karena telah masuk stadium 4, dokter mengatakan ia hanya akan bertahan hidup selama 3 bulan.

Prediksi itu meleset setelah kemoterapi yang ia jalani memberikan perkembangan positif. Namun seperti telah berjodoh, Sean kembali didiagnosis mengidap kanker yang lebih ganas 1,5 tahun kemudian.

Kali ini Sean diserang Askin Diesease, kanker ganas yang tumbuh di paru-parunya. Penyakit ini sangat langka, hanya terjadi pada 3 di antara 1 juta orang.

Pertumbuhan jaringan tumor yang dialami Sean sangat cepat, dan besarnya telah mencapai seukuran bola golf hanya dalam waktu 4 bulan. Sean diperkirakan hanya mampu bertahan hidup selama 2 pekan setelah tumor itu diangkat.

Lagi-lagi perkiraan itu meleset. Kondisi Sean kian membaik setelah menjalani kemoterapi dan radioterapi selama 1,5 tahun. Bahkan tak lama setelah itu, ia berhasil menjuarai lomba lari 800 meter.

"Kesempatan untuk hidup setelah 2 kali terserang kanker rasanya sama dengan memenangkan lotere sebanyak 4 kali berturut-turut dengan memasang nomer yang sama," ungkap Sean saat berbicara di depan pasien anak di Georgetown University Hospital, dikutip dari Foxnews, Kamis (27/5/2010).

Sejak saat itu Sean makin bersemangat untuk mencoba berbagai tantangan. Ia mulai mendaki beberapa gunung, dan akhirnya puncak tertinggi di dunia yakni Puncak Everest berhasil ia taklukkan pada Mei 2002.

Di puncak tersebut Sean mengibarkan sebuah bendera yang ditulisi nama-nama penderita kanker yang berhasil sembuh dari penyakit mematikan itu. Bendera itu sengaja ia kantongi di dada saat mendaki Puncak Everest.

"Saat itu rasanya seperti mengumpulkan seluruh emosi dan perasaan yang pernah kamu alami ke dalam sebuah bola kecil, lalu meledakkannya. Air mata tidak bisa dibendung lagi," ungkap Sean mengenang saat pendakiannya 8 tahun lalu.

Dengan hanya 1 paru-paru yang masih berfungsi, Sean juga telah berhasil mendaki puncak-puncak tertinggi di 7 benua. Ini membuktikan bahwa semangat yang tinggi dapat mengatasi rintangan sebesar apapun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar